THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES
Powered By Blogger

Rabu, 10 Desember 2008

Cerita tentang Dua Matahari

Iswadi Idris (tengah) dalam aksinya menjebol gawang lawan.

Oleh Budiarto Shambazy

Di tengah hari yang terik itu kami, beberapa wartawan Indonesia, menyaksikan aksi mahabintang Diego Maradona di final Piala Dunia 1986 Argentina melawan Jerman Barat di Stadion Azteca, Mexico City. Kami beruntung ada tiga pemain besar di negeri ini, Sinyo Aliandoe, Iswadi Idris, dan Ronny Pattinasarany.


Sinyo, Iswadi, dan Ronny baru alih profesi menjadi kolumnis. Dari penuturan mereka, kami paham makna di balik tiap adegan yang diperagakan Maradona. Kami lebih mengerti arah, alur, sistem, taktik, strategi, dan dinamika pertandingan.

Ketiganya gelandang timnas berkelas playmaker pengatur serangan dengan intelektualitas tinggi. Dua telah mendahului kita: Iswadi (kelahiran 18 Maret 1948) tutup usia 11 Juli lalu dan Ronny (kelahiran 9 Februari 1949) 19 September 2008. Salut untuk Iswadi dan Ronny yang pernah jadi kapten timnas selama bertahun-tahun.

Dari pengalaman meliput Piala Dunia 1986 itu saya sadar Iswadi dan Ronny sesungguhnya bersaing ketika jadi pemain nasional. Di timnas mana pun hal seperti ini wajar, misalnya, antara Piet Keizer dan Johan Cruyff di Belanda atau Franz Beckenbauer dan Gunther Netzer di Jerman Barat. Biasanya persaingan macam ini bersumber pada satu hal: tak boleh ada dua Matahari di Bumi ini.

Bintang Iswadi bersinar setelah kembali dari klub Melbourne Western Suburb (Australia) awal 1970-an, Ronny setelah membawa PSM Makassar menjuarai Soeharto Cup 1974. Pelatih timnas asal Belanda, Wiel Coerver, mungkin bingung memadukan kombinasi Iswadi-Ronny saat mempersiapkan timnas ke Pra-Olimpiade 1976 di Jakarta.

Dua-duanya berkualitas kapten dan efektif bermain di lini tengah—meski Iswadi juga hebat sebagai kanan luar. Dua-duanya ”pemain berwatak” bertipe pemberontak alias sukar diatur dan memiliki kepemimpinan. Apalagi mereka didukung pemain-pemain top macam Junaedi Abdillah, Sutan Harhara, Ronny Pasla, dan Anjas Asmara. Coerver lebih memilih Iswadi dan mengorbankan Ronny yang kala itu lebih senang disebut ”mantan pemain nasional” saja.

Ronny mengirim sepucuk surat ke PSSI yang isinya menyarankan siapa saja yang pantas dipilih masuk ke tim 1976—kecuali dirinya. Sebagian gagasan line-up versi Ronny itu diterima baik oleh Coerver karena amat masuk akal.

Sejarah mencatat tim yang dikapteni Iswadi itu nyaris lolos ke Olimpiade 1976 Toronto (Kanada) andai menang adu penalti atas Korea Utara. Tak lama kemudian Ronny kembali ke timnas bergabung dengan Iswadi di timnas SEA Games 1979 yang di final di Stadion Utama Senayan ditaklukkan Malaysia 0-1. Iswadi tetap kapten, Ronny wakilnya.

Pada tahun-tahun itu Iswadi kapten klub Jayakarta di kompetisi Galatama, Ronny kapten Warna Agung. Di kompetisi perdana 1979-1980 Warna Agung jadi juara setelah di partai terakhir menaklukkan Jayakarta 1-0. Lewat kepemimpinan dan corak permainan di kedua klub inilah watak kedua pemain besar itu tampak jelas.

Ronny dan Warna Agung memelopori ”sepak bola sirkus” yang bergaya Brasil. Ia antara lain dibantu Risdianto, Rully Nere, Tinus Heipon, Timo Kapisa, Stefanus Sirey, dan Budi Riva. Warna Agung klub yang cenderung pamer dan nikmat ditonton karena individual skill setiap pemain amat menonjol.

Sebaliknya, Jayakarta lebih mirip Jerman Barat karena Iswadi ”bertangan besi”. Ia kurang bisa menoleransi kesalahan seminimal apa pun. Kalau Warna Agung memperagakan sepak bola menyerang, Jayakarta cenderung defensif. Iswadi bagai magnet yang jadi pusat inspirasi bagi pemain-pemain Jayakarta lainnya, macam Anjas, Sofyan Hadi, Andi Lala, dan Aun Harhara.

Sosok atau kepribadian Ronny dan Iswadi mendominasi dua klub elite yang mereka kapteni itu. Prestasi Warna Agung dan Jayakarta di ajang Galatama relatif stabil dan menjadi pusat produksi sejumlah pemain nasional yang andal. Dan, secara perlahan-lahan kematangan teknis serta kepemimpinan Iswadi dan Ronny menyeret mereka untuk memainkan peranan baru: sebagai libero timnas.

Ketika itu peranan Beckenbauer sebagai libero jadi model yang diminati banyak tim di dunia. Namun, untuk ukuran Indonesia, peranan itu sesungguhnya dimainkan Ronny dan Iswadi untuk menutupi kelemahan timnas PSSI yang paceklik penyerang dan prestasi. Iswadi tampil sebagai libero dengan andalan penyerang macam Hadi Ismanto, sedangkan Ronny jadi dirigen untuk penyerang generasi baru di bawah Hadi Ismanto, seperti Bambang Nurdiansyah dan Bambang Sunarto.

Telah terbukti dua pemain istimewa ini merupakan peletak dasar sepak bola kita. Pada saat prestasi seret mereka masih memainkan peranan penting sebagai kapten ataupun libero dalam usia di atas 30 tahun. Di lapangan hijau yang bekerja praktis bukan fisik mereka yang sudah tak prima lagi, tetapi otak dan leadership mereka.

Ya, otak dan leadership itulah yang kini tak ada lagi di jajaran timnas ataupun PSSI. Tak ada pemimpin lagi di organisasi ataupun di lapangan hijau, yang ada hanya pemain dan pengurus berkelas follower. Ironisnya, nyaris tak ada apresiasi dari pemerintah terhadap pengabdian yang disumbangkan untuk bangsa ini oleh Ronny dan Iswadi.

Prestasi dan kondisi timnas ataupun pengurus PSSI makin tak karuan. Ketua umumnya dipenjara, timnas jadi juara hanya gara-gara Libya kalah WO karena pelatihnya digebuki. Saya hanya menyesali Ronny dan Iswadi masih belum bisa menikmati prestasi timnas dan pengurus PSSI yang patut dibanggakan sampai mereka dipanggil ke haribaan-Nya.

Kamis, 04 Desember 2008

Pembantaian di Stadion Anfield

Kiper Tottenham Hotspur, Barry Daines, hanya bisa terpukau melihat gawangnya jebol lagi, kala dia gagal menahan tendangan penalti pemain Liverpool, Phil Neal. Tottenham akhirnya kalah 0-7.
Selasa, 11/11/2008 | 10:44 WIB

TANGGAL 2 September 1978, langit di Kota Liverpool benar-benar bersih. Matahari masih menghantamkan sinar panas, saat Liverpool menjamu Tottenham Hotspur. Memang bukan partai musuh bebuyutan, tapi pertandingan itu ditunggu banyak orang. Liverpool sebagai tim kelas satu dianggap mendapat ancaman serius dari The Spurs yang baru promosi setelah semusim terdampar di Divisi I.

Bahkan, partai ini dianggap paling menggairahkan di kompetisi Divisi Utama Liga Inggris pekan itu. The Spur di bawah pelatih Keith Burkinshaw dinilai sangat menjanjikan. Meski baru promosi, mereka memiliki tim yang sangat bagus.

Burkinshaw baru membeli dua bintang Argentina yang baru saja sukses membawa negaranya juara Piala Dunia 1978. Mereka adalah Osvaldo Ardiles dan Ricardo Villa. Selain itu, The Spur juga punya pemain rising star yang menjadi harapan Inggris, yakni Glenn Hoddle.

Sebelum pertandingan, media massa sudah membuat preview partai itu bakal ketat. Tuan rumah bakal mendapat perlawanan sengit. Itu yang membuat suasana begitu panas, hingga Liverpudlian tak mau melewatkannya. Mereka berduyun-duyun ke Anfield agar tim kesayangannya tak dipermalukan klub dari London itu.

“Kami mempersiapkan pertandingan ini dengan kerja ekstra. Semua pemain menunggu partai ini. The Spur memang sedang punya tim yang hebat. Tapi, kami tak ingin dipermalukan di depan pendukung sendiri,” ujar gelandang Liverpool waktu itu, Terry McDermott.

Benar saja. The Spurs dibuat kaget atas penampilan Liverpool. The Reds seperti badai yang sulit ditahan. Tim asuhan Bob Paisley ini selalu memainkan permainan cepat tanpa henti sejak pertandingan dimulai. Sehingga, The Spurs pun kesulitan mengembangkan permainan.

Sebaliknya, Liverpool mampu terus menguasai permainan. Gol demi gol pun tercipta dengan mudahnya. Liverpool membantai tim yang dianggap bakal mengancam kemapana tim-tim elite Liga Inggris itu dengan skor meyakinkan, 7-0. Ini kemenangan terbesar Liverpool, sekaligus terbesar di musim 1978-79.

MENGAMUK
Semula, The Spurs masih bisa sedikit mengimbangi permainan Liverpool. Mereka mencoba memainkan gaya sepak bola yang sedikit berbau latin. Umpan-umpan pendek dan pergerakan yang teratur menjadi ciri khasnya. Dimotori Ardiles, Spur mencoba mengacau irama permainan Liverpool.

Ternyata strategi itu tak berjalan. Liverpool justru mengamuk dan mencoba memberi tekanan yang sangat tajam kepada lawan. Kenny Dalglish dkk akan cepat menekan The Spurs, manakala kehilangan bola. Sebaliknya jika menguasai bola, mereka akan melakukan serangan dengan cepat.

Gaya bermain cepat tanpa kenal lelah itu tampaknya membuat tim tamu kesulitan. Bahkan, mereka semakin kehilangan kepercayaan diri setelah Kenny Dalglish mencetak gol pertamanya.

Sejak itu, The Spurs hanya bisa sesekali menyerang. Itupun tak pernah benar-benar berbahaya. Sebab, serangan mereka selalu mentah. Kiper Liverpool, Ray Clemence nyaris tak pernah bekerja keras. Bahkan, memegang bola pun jarang.

Sebaliknya kiper Tottenham Hotspur, Barry Daines harus jatuh-bangun menahan serangan demi serangan yang dilancarkan Liverpool. Belum 30 menit berlangsung, dia harus memungut bola dari jaringnya sebanyak tiga kali. Dua gol susulan Liverpool dicetak oleh Kenny Dalglish dan Ray Kennedy.

Bagusnya, The Spurs tak putus asa. Mereka tetap berusaha mengejar ketinggalan. Sayang, serangan mereka mudah dibaca. Selain itu Ardiles, Glenn Hoddle, dan Ricardo Villa mampu dimatikan oleh para pemain Liverpool. Ketiga pemain ini tak pernah bisa leluasa memegang bola, sehingga permainan Spurs pun kacau.

Memasuki babak kedua, The Spurs mencoba mengubah keadaan. Mereka ganti menerapkan permainan cepat dari kaki ke kaki. Tapi, untuk gaya yang satu ini, Liverpool lebih jago. Sehingga, perubahan strategi itu justru blunder dan menyenangkan tuan rumah.

Setiap kali The Spurs menaikkan tempo serangannya, saat itu juga Liverpool tambah mengamuk. Kecepatan permainan Liverpool bukannya mengendor, tapi justru tambah meningkat. Ini yang membuat Spurs semakin kesulitan.

Graeme Souness dibiarkan terus berada di depan dan memancing pertahanan The Spurs. Sedangkan 9 pemain lainnya seolah memainkan sepak bola total. Mereka menjadi kesatuan dalam menyerang maupun bertahan.

Menguasai permainan membuat Liverpool makin mudah mencetak gol demi gol tambahan. David Johnson yang menggantikan Emily Hughes mencetak dua gol tambahan. Kemudian, Phil Neal dan terry McDermott menambah dua gol.

Sempurna sudah kemenangan Liverpool. Ketakutan terhadap ancaman Spurs ternyata tak beralasan. Walupun akhirnya di sepanjang kompetisi Spurs memang tampil bagus, tapi tidak di Anfield. Stadion yang angker itu menjadi tempat pembantaian Glenn Hoddle dkk yang sulit mereka lupakan.

Bagi Liverpool sendiri, kemenangan tersebut merupakan kenangan amat indah. Apalagi, kemenangan itu menegaskan keperkasaan The Reds di Inggris. Di akhir kompetisi, mereka akhirnya tampil sebagai juara.

“Itu pertandingan indah yang tak mungkin kami lupakan. Banyak kenangan yang ditinggalkan,” kata McDermott yang mencetak gol terindah dalam pertandingan tersebut. Bahkan, gol ke-7 Liverpool yang dia cetak itu merupakan gol terindah dalam kariernya. (Hery Prasetyo)

Rekaman pertandingan
Ajang:
Divisi Utama Liga Inggris
Skor: 7-0
Tanggal: 2 September 1978
Stadion: Anfield
Penonton: 50.705
Wasit: Bob Sheperd
Skuad Liverpool: R. Clemence, P. Neal, A. Kennedy, P. Thompson, R. Kennedy, E. Hughes (D. Johnson), K. Dalglish, J. Case, S. Heighway, T. McDermott, G. Souness (Pelatih: Bob Paisley)
Skuad Tottenham: B. Daines, D. McAllister, T. Naylor, G. Hoddle, J. Lacy, S. Perryman, R.Villa, O. Ardiles, P. Taylor, J. Duncan, N. McNab (Pelatih: Keith Burkinshaw)

Rekaman gol
Rata-rata gol yang dicetak Liverpool sangat indah. Setidaknya, 6 dari 7 gol tercipta melaui kerja sama yang rapi. Berikut rekaman gol-gol tersebut.

Gol ke-1

Ray Kennedy memberi umpan ke kanan kepada Jimmy Case. Setelah mendekat kotak penalti, Case mencoba melepaskan tendangan ke gawang. Tapi bola tertahan kaki Kenny Dalglish. Tanpa pikir panjang, Dalglish melakukan tendangan menyusur dan menaklukkan kiper The Spurs, Barry Daines.

Gol ke-2
Kennedy mencoba menendang bola ke gawang, setelah menerima umpan dari Dalglish. Membentur kaki Hoddle. Bola rebound mengarah ke Souness. Tendangannya kembali membentur. Kali ini Dalglis mengambil bola rebound dan melesakkannya ke gawang.

Gol ke-3
Umpan silang McDermott dari sisi kiri pertahanan The Spurs langsung disambar Ray Kennedy. Lacy mencoba menghalang, tapi bola keburu masuk gawang Spurs.

Gol ke-4
Dalglish melakukan tendangan voli ke gawang The Spurs. Bola membentur gawang dan mental. David Johnson yang mendapatkan bola tanpa ampun mengirimnya ke gawang lawan.

Gol ke-5
Dalglish yang mendapat umpan manis, kesulitan menendang ke gawang. Bola diberikan kepada Johnson yang langsung menghukum gawang The Spurs.

Gol ke-6
Phil Neal melakukan tendangan bebas dari luar kotak penalti. Barry Daines mampu menahannya. Entah karena apa, tendangan diulang. Kali ini, tendangan Neal gagal dihalau Daines.

Gol ke-7
Sebuah serangan cepat dan effektif. Bermula tendangan posok The Spurs. Bola dihalau dan dikuasai Dalglish. Tanpa membuat waktu, dia mengumpan kepada David Johnson yang langsung memberikannya kepada Heighway. Heighway melakukan umpan silang. Terry McDermott yang sejak awal berlari tanpa henti dari pertahanannya sendiri (sekitar 70 yard) langsung menanduk bola Highway dan gol. Ini dinilai gol terindah musim itu.