<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4516301767938308910</id><updated>2012-02-16T09:21:50.101-08:00</updated><title type='text'>football-mania</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://zaien.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4516301767938308910/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaien.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>241en</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03261074291347304093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_bCUQs2fuN-Y/STf0FGqmfzI/AAAAAAAAAAs/Rxxu5K5WEuA/S220/1_343245500l.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4516301767938308910.post-5785462598356211311</id><published>2009-01-07T05:54:00.000-08:00</published><updated>2009-01-07T06:16:38.900-08:00</updated><title type='text'>Bill Shankly, Total demi Bola</title><content type='html'>&lt;div style="float: left; width: 304px; background-color: rgb(255, 255, 255); margin-bottom: 10px; margin-right: 10px;"&gt;  &lt;div id="imheadlinerubrik"&gt; 	&lt;div style="width: 300px; float: left; margin-right: 10px;"&gt;	 	 	  &lt;div style="padding: 0px 0px 5px; width: 298px;"&gt;  	   &lt;div id="loadarea" style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/01/07/070337p.jpg" border="0" width="298"&gt; 		&lt;/div&gt;  				&lt;a title="" href="http://www.kompas.com/data/photo/2009/01/07/070337p.jpg" rev="loadarea::#" rel="enlargeimage::mouseover"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/01/07/070337t.jpg" onmouseover="changetext('Bill Shankly sebagai pelatih dalam sebuah pertandingan Liverpool.');changepoto('&lt;a href=#&gt;GETTY IMAGES&lt;/a')" ;="" border="0" height="52" hspace="2" width="70"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a title="" href="http://www.kompas.com/data/photo/2009/01/07/070453p.jpg" rev="loadarea::#" rel="enlargeimage::mouseover"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/01/07/070453t.jpg" onmouseover="changetext('Bill Shankly menerima Whiskey atas suksesnya menjadi manajer terbaik tahun 1970.');changepoto('&lt;a href=#&gt;GETTY IMAGES&lt;/a')" ;="" border="0" height="52" hspace="2" width="70"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a title="" href="http://www.kompas.com/data/photo/2009/01/07/070551p.jpg" rev="loadarea::#" rel="enlargeimage::mouseover"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/01/07/070551t.jpg" onmouseover="changetext('Bill Shankly saat menjadi pemain membela Preston North End. Dia keluar dari ruang ganti memimpin rekan-rekannya.');changepoto('&lt;a href=#&gt;GETTY IMAGES&lt;/a')" ;="" border="0" height="52" hspace="2" width="70"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a title="" href="http://www.kompas.com/data/photo/2009/01/07/070639p.jpg" rev="loadarea::#" rel="enlargeimage::mouseover"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/01/07/070639t.jpg" onmouseover="changetext('Patung Bill Shankly di Liverpool.');changepoto('&lt;a href=#&gt;GETTY IMAGES&lt;/a')" ;="" border="0" height="52" hspace="2" width="70"&gt;&lt;/a&gt;				 			&lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://bola.kompas.com/read/xml/2009/01/07/06580467/bill.shankly.total.demi.bola#" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none; text-transform: lowercase;"&gt;GETTY IMAGES&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;		 			&lt;div id="boxtitle" style="margin-top: 5px; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 11px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Bill Shankly sebagai pelatih dalam sebuah pertandingan Liverpool.&lt;/div&gt; 		  &lt;/div&gt; 		   		&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;   &lt;div id="boxterkait"&gt; &lt;b class="judulnolead"&gt;Artikel Terkait:&lt;/b&gt;  &lt;/div&gt; &lt;/div&gt;      &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div id="article_body"&gt; &lt;p&gt;”&lt;strong&gt;BANYAK&lt;/strong&gt; orang yang mengira sepak bola adalah persoalan hidup dan mati. Saya sungguh kecewa. Sepak bola jauh lebih besar dari sekadar urusan hidup dan mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perasaan aneh saat mendengar statemen tersebut. Logika normal seolah berontak. Bagaimana mungkin persoalan hidup dan mati menjadi seekor "semut" jika dibandingkan dengan sepak bola. Jangan pernah mengkritisi statemen tersebut kepada seorang Bill Shankly. Wajahnya bakal berkerut, lalu dengan meledak-ledak berargumentasi. Bagi Shankly, keyakinan itu sudah terbatinkan. &lt;em&gt;Football is everything&lt;/em&gt;. Sebanding dengan agama. Baginya, sepak bola harus disikapi secara total dan maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penikmat sepak bola yang relatif baru mungkin jarang mendengar Bill Shankly. Telinga akan lebih akrab mendengar nama Sir Alex Fergusson atau juga Arsene Wenger. Tanpa bermaksud menyepelekan Fergie atau Wenger, berdasarkan poling TEAMtalk dan World Soccer 2001, Shankly merupakan pelatih paling legendaris di Britania Raya. Mengungguli 2 nama pelatih besar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencinta Liverpool memujanya seperti malaikat. Dia dianggap sebagai pelatih terbesar. Selama membesut "The Reds" dari 1959 hingga 1974, Shankly telah menghadiahi pendukung Liverpool 3 gelar Liga Inggris, 2 Piala FA, 3 Charity Shields, dan 1 Piala UEFA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harap dicatat, bukan raihan gelar itu yang membuat pendukung Liverpool rela mendirikan monumen untuk mengenang Shankly. Pria yang meninggal pada 1981 tersebut dianggap sebagai peletak fondasi kebesaran Liverpool.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kali pertama ditunjuk menjadi pelatih Liverpool oleh TV Williams—Presiden Liverpool kala itu—pada 1959, Shankly punya PR besar. Selain terpuruk di Divisi II, kondisi Liverpool sangat parah. Lapangan becek, tribun penonton reot, dan kamar ganti pemain amburadul. Reformasi total pun dilaksanakan Shankly. Shankly tak hanya berhasil menuntaskan problem internal. Dia juga sukses memberikan sederet pundi-pundi gelar, baik di kancah lokal atau Eropa, sekaligus memberikan dasar-dasar yang kuat bagi para penerus. Keberhasilan Bob Paisley pada era 1980-an, juga berkat jasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KAMPIUN BRITANIA RAYA &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bill Shankly lahir pada 1913 di daerah pertambangan Glenbuck, Skotlandia. Suatu kawasan yang sangat menggemari sepak bola, selain politik tentunya. Sepak bola merupakan alasan untuk hidup. Pada periode 1890-1940, daerah Glenbuck telah menelurkan lebih dari 50 pebola profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shankly tumbuh seperti rekan-rekan sebayanya. Bekerja sebagai tukang tambang 6 hari seminggu. Hanya menyisakan Sabtu malam untuk bersosialisasi dan hari Minggu untuk bermain bola. Sangat membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepak bola sudah menjadi jalan hidup bagi Shankly untuk meretas kebebasan. Pada 1932, dia bergabung dengan Carlisle United dan beberapa tahun kemudian pindah ke Preston North End Club. Shankly tercatat pernah memperkuat timnas Skotlandia sebanyak 7 kali. Saat menginjak umur 33 tahun, pria berkarakter keras ini memutuskan gantung sepatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karier kepelatihannya diretas dengan membesut Carlisle, kemudian berlanjut ke klub yang lebih besar seperti Grimbsy, Workington, dan Huddersfield. Fase paling penting pada 1959. Dia diberi kepercayaan oleh Presiden Liverpool, TV Williams, untuk membenahi "The Reds". Tugas yang sangat berat. Kondisi Liverpool saat itu compang-camping dan terpuruk di Divisi II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi dijalankan. Untuk pola permainan, Shankly memperkenalkan ilmunya yang kemudian melegenda, &lt;em&gt;the five-a-side games&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;passing game&lt;/em&gt;. Menurut Shankly, sebenarnya sepak bola itu sederhana, yakni seni mengumpan dan bergerak. Yang diperlukan adalah kecerdasan berpikir untuk mengumpan dan mencari ruang untuk menerima umpan. Intinya, Shankly menekankan para pemainnya untuk menggunakan otak dalam bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembenahan kedua, Shankly meminta agar tempat latihan di Melwood dipugar. Shankly punya cara paten untuk membentuk kesolidan tim. Dia mewajibkan semua pemain berkumpul di Anfield untuk kemudian berbarengan naik bus ke Melwood. Seusai latihan, para pemain kembali diwajibkan untuk balik dulu ke Anfield bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shankly juga menanamkan filosofi penting untuk para pemainnya. "&lt;em&gt;If you are first you are first. If you are second, you are nothing&lt;/em&gt;." Maksudnya, tak ada kamus untuk kalah. "The Reds" harus selalu yang nomor satu. Pelatuk yang ia canangkan saat itu, menggusur dominasi rival sekota (Everton) dan menjadikan "The Reds" sebagai klub nomor satu di Liverpool.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya ciamik. Dalam empat musim, "The Reds" dia angkat kembali promosi ke Divisi Utama. Tak tanggung-tanggung, begitu naik ke Divisi Utama musim 1963-64, tahta jawara langsung direbut. Setahun berikutnya, untuk pertama kalinya Liverpool merengkuh Piala FA. Level Eropa juga dikangkangi dengan merebut Piala UEFA 1973.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa besutannya, Liverpool memasuki era gilang-gemilang. Tahun 1974, saat umurnya menginjak 61 tahun, Shankly memutuskan pensiun. Bukan terlalu dini. Dia sudah membawa banyak kebesaran buat Liverpool. Sukses yang lahir berkat filosofinya: sepak bola bukan sekadar hidup dan mati. &lt;strong&gt;(Yoyok/SOCCER)*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta Shankly&lt;br /&gt;Nama Lengkap :&lt;/strong&gt; William Shankly&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lahir : &lt;/strong&gt;Glenbuck (Skotlandia), 2 September 1913&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Meninggal : &lt;/strong&gt;September 1981&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Karier pemain : &lt;/strong&gt;Carlisle United (1932-1933), Perston North End (1933-1949)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Karier pelatih :&lt;/strong&gt; Carlisle United (1949-1951), Grimsby Town (1951-1953), Workington (1954-1955), Huddersfield Town (1955-59), Liverpool (1959-1974)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Prestasi : &lt;/strong&gt;3 Liga Inggris, 2 Piala FA, 3 Charity Shields, dan 1 Piala UEFA&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4516301767938308910-5785462598356211311?l=zaien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaien.blogspot.com/feeds/5785462598356211311/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4516301767938308910&amp;postID=5785462598356211311' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4516301767938308910/posts/default/5785462598356211311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4516301767938308910/posts/default/5785462598356211311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaien.blogspot.com/2009/01/bill-shankly-total-demi-bola.html' title='Bill Shankly, Total demi Bola'/><author><name>241en</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03261074291347304093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_bCUQs2fuN-Y/STf0FGqmfzI/AAAAAAAAAAs/Rxxu5K5WEuA/S220/1_343245500l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4516301767938308910.post-6729765690988336760</id><published>2008-12-10T05:32:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T03:36:22.914-08:00</updated><title type='text'>Cerita tentang Dua Matahari</title><content type='html'>&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2008/02/23/110635p.jpg" border="0" width="298" /&gt;   &lt;div style="float: left; width: 304px; background-color: rgb(255, 255, 255); margin-bottom: 10px; margin-right: 10px;"&gt;&lt;div id="imheadlinerubrik"&gt;&lt;div style="width: 300px; float: left; margin-right: 10px;"&gt;&lt;div style="padding: 0px 0px 5px; width: 298px;"&gt;              &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://bola.kompas.com/read/xml/2008/09/23/09502427/cerita.tentang.dua.matahari#" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none; text-transform: lowercase;"&gt;KOMPAS&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div id="boxtitle" style="margin-top: 5px; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 11px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Iswadi Idris (tengah) dalam aksinya menjebol gawang lawan.&lt;/div&gt;     &lt;/div&gt;        &lt;/div&gt; &lt;/div&gt;   &lt;/div&gt;      &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div id="article_body"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Budiarto Shambazy&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Di te&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;ngah hari yang terik itu kami, beberapa wartawan Indonesia, menyaksikan aksi mahabintang Diego Maradona di final Piala Dunia 1986 Argentina melawan Jerman Barat di Stadion Azteca, Mexico City. Kami beruntung ada tiga pemain besar di negeri ini, Sinyo Aliandoe, Iswadi Idris, dan Ronny Pattinasarany.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Sinyo, Iswadi, dan Ronny baru alih profesi menjadi kolumnis. Dari penuturan mereka, kami paham makna di balik tiap adegan yang diperagakan Maradona. Kami lebih mengerti arah, alur, sistem, taktik, strategi, dan dinamika pertandingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiganya gelandang timnas berkelas playmaker pengatur serangan dengan intelektualitas tinggi. Dua telah mendahului kita: Iswadi (kelahiran 18 Maret 1948) tutup usia 11 Juli lalu dan Ronny (kelahiran 9 Februari 1949) 19 September 2008. Salut untuk Iswadi dan Ronny yang pernah jadi kapten timnas selama bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman meliput Piala Dunia 1986 itu saya sadar Iswadi dan Ronny sesungguhnya bersaing ketika jadi pemain nasional. Di timnas mana pun hal seperti ini wajar, misalnya, antara Piet Keizer dan Johan Cruyff di Belanda atau Franz Beckenbauer dan Gunther Netzer di Jerman Barat. Biasanya persaingan macam ini bersumber pada satu hal: tak boleh ada dua Matahari di Bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintang Iswadi bersinar setelah kembali dari klub Melbourne Western Suburb (Australia) awal 1970-an, Ronny setelah membawa PSM Makassar menjuarai Soeharto Cup 1974. Pelatih timnas asal Belanda, Wiel Coerver, mungkin bingung memadukan kombinasi Iswadi-Ronny saat mempersiapkan timnas ke Pra-Olimpiade 1976 di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua-duanya berkualitas kapten dan efektif bermain di lini tengah—meski Iswadi juga hebat sebagai kanan luar. Dua-duanya ”pemain berwatak” bertipe pemberontak alias sukar diatur dan memiliki kepemimpinan. Apalagi mereka didukung pemain-pemain top macam Junaedi Abdillah, Sutan Harhara, Ronny Pasla, dan Anjas Asmara. Coerver lebih memilih Iswadi dan mengorbankan Ronny yang kala itu lebih senang disebut ”mantan pemain nasional” saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ronny mengirim sepucuk surat ke PSSI yang isinya menyarankan siapa saja yang pantas dipilih masuk ke tim 1976—kecuali dirinya. Sebagian gagasan line-up versi Ronny itu diterima baik oleh Coerver karena amat masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat tim yang dikapteni Iswadi itu nyaris lolos ke Olimpiade 1976 Toronto (Kanada) andai menang adu penalti atas Korea Utara. Tak lama kemudian Ronny kembali ke timnas bergabung dengan Iswadi di timnas SEA Games 1979 yang di final di Stadion Utama Senayan ditaklukkan Malaysia 0-1. Iswadi tetap kapten, Ronny wakilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun-tahun itu Iswadi kapten klub Jayakarta di kompetisi Galatama, Ronny kapten Warna Agung. Di kompetisi perdana 1979-1980 Warna Agung jadi juara setelah di partai terakhir menaklukkan Jayakarta 1-0. Lewat kepemimpinan dan corak permainan di kedua klub inilah watak kedua pemain besar itu tampak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ronny dan Warna Agung memelopori ”sepak bola sirkus” yang bergaya Brasil. Ia antara lain dibantu Risdianto, Rully Nere, Tinus Heipon, Timo Kapisa, Stefanus Sirey, dan Budi Riva. Warna Agung klub yang cenderung pamer dan nikmat ditonton karena individual skill setiap pemain amat menonjol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, Jayakarta lebih mirip Jerman Barat karena Iswadi ”bertangan besi”. Ia kurang bisa menoleransi kesalahan seminimal apa pun. Kalau Warna Agung memperagakan sepak bola menyerang, Jayakarta cenderung defensif. Iswadi bagai magnet yang jadi pusat inspirasi bagi pemain-pemain Jayakarta lainnya, macam Anjas, Sofyan Hadi, Andi Lala, dan Aun Harhara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok atau kepribadian Ronny dan Iswadi mendominasi dua klub elite yang mereka kapteni itu. Prestasi Warna Agung dan Jayakarta di ajang Galatama relatif stabil dan menjadi pusat produksi sejumlah pemain nasional yang andal. Dan, secara perlahan-lahan kematangan teknis serta kepemimpinan Iswadi dan Ronny menyeret mereka untuk memainkan peranan baru: sebagai libero timnas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu peranan Beckenbauer sebagai libero jadi model yang diminati banyak tim di dunia. Namun, untuk ukuran Indonesia, peranan itu sesungguhnya dimainkan Ronny dan Iswadi untuk menutupi kelemahan timnas PSSI yang paceklik penyerang dan prestasi. Iswadi tampil sebagai libero dengan andalan penyerang macam Hadi Ismanto, sedangkan Ronny jadi dirigen untuk penyerang generasi baru di bawah Hadi Ismanto, seperti Bambang Nurdiansyah dan Bambang Sunarto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah terbukti dua pemain istimewa ini merupakan peletak dasar sepak bola kita. Pada saat prestasi seret mereka masih memainkan peranan penting sebagai kapten ataupun libero dalam usia di atas 30 tahun. Di lapangan hijau yang bekerja praktis bukan fisik mereka yang sudah tak prima lagi, tetapi otak dan leadership mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, otak dan leadership itulah yang kini tak ada lagi di jajaran timnas ataupun PSSI. Tak ada pemimpin lagi di organisasi ataupun di lapangan hijau, yang ada hanya pemain dan pengurus berkelas follower. Ironisnya, nyaris tak ada apresiasi dari pemerintah terhadap pengabdian yang disumbangkan untuk bangsa ini oleh Ronny dan Iswadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi dan kondisi timnas ataupun pengurus PSSI makin tak karuan. Ketua umumnya dipenjara, timnas jadi juara hanya gara-gara Libya kalah WO karena pelatihnya digebuki. Saya hanya menyesali Ronny dan Iswadi masih belum bisa menikmati prestasi timnas dan pengurus PSSI yang patut dibanggakan sampai mereka dipanggil ke haribaan-Nya.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4516301767938308910-6729765690988336760?l=zaien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaien.blogspot.com/feeds/6729765690988336760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4516301767938308910&amp;postID=6729765690988336760' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4516301767938308910/posts/default/6729765690988336760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4516301767938308910/posts/default/6729765690988336760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaien.blogspot.com/2008/12/cerita-tentang-dua-matahari.html' title='Cerita tentang Dua Matahari'/><author><name>241en</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03261074291347304093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_bCUQs2fuN-Y/STf0FGqmfzI/AAAAAAAAAAs/Rxxu5K5WEuA/S220/1_343245500l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4516301767938308910.post-6748229523502929385</id><published>2008-12-04T07:37:00.000-08:00</published><updated>2008-12-04T07:38:46.445-08:00</updated><title type='text'>Pembantaian di Stadion Anfield</title><content type='html'>&lt;div style="float: left; width: 304px; background-color: rgb(255, 255, 255); margin-bottom: 10px; margin-right: 10px;"&gt;  &lt;div id="imheadlinerubrik"&gt;  &lt;div style="width: 300px; float: left; margin-right: 10px;"&gt;       &lt;div style="padding: 0px 0px 5px; width: 298px;"&gt;      &lt;div id="loadarea" style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2008/11/11/104854p.jpg" border="0" width="298" /&gt;   &lt;/div&gt;              &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://bola.kompas.com/read/xml/2008/11/11/10441072/pembantaian.di.stadion.anfield#" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none; text-transform: lowercase;"&gt;GETTY IMAGES&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div id="boxtitle" style="margin-top: 5px; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 11px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Kiper Tottenham Hotspur, Barry Daines, hanya bisa terpukau melihat gawangnya jebol lagi, kala dia gagal menahan tendangan penalti pemain Liverpool, Phil Neal. Tottenham akhirnya kalah 0-7.&lt;/div&gt;     &lt;/div&gt;        &lt;/div&gt; &lt;/div&gt;   &lt;/div&gt;    &lt;div class="haritanggalheadline"&gt;Selasa, 11/11/2008 | 10:44 WIB&lt;/div&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div id="article_body"&gt; &lt;p&gt;TANGGAL 2 September 1978, langit di Kota Liverpool benar-benar bersih. Matahari masih menghantamkan sinar panas, saat Liverpool menjamu Tottenham Hotspur. Memang bukan partai musuh bebuyutan, tapi pertandingan itu ditunggu banyak orang. Liverpool sebagai tim kelas satu dianggap mendapat ancaman serius dari The Spurs yang baru promosi setelah semusim terdampar di Divisi I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, partai ini dianggap paling menggairahkan di kompetisi Divisi Utama Liga Inggris pekan itu. The Spur di bawah pelatih Keith Burkinshaw dinilai sangat menjanjikan. Meski baru promosi, mereka memiliki tim yang sangat bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burkinshaw baru membeli dua bintang Argentina yang baru saja sukses membawa negaranya juara Piala Dunia 1978. Mereka adalah Osvaldo Ardiles dan  Ricardo Villa. Selain itu, The Spur juga punya pemain rising star yang menjadi harapan Inggris, yakni Glenn Hoddle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pertandingan, media massa sudah membuat preview partai itu bakal ketat. Tuan rumah bakal mendapat perlawanan sengit. Itu yang membuat suasana begitu panas, hingga Liverpudlian tak mau melewatkannya. Mereka berduyun-duyun ke Anfield agar tim kesayangannya tak dipermalukan klub dari London itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami mempersiapkan pertandingan ini dengan kerja ekstra. Semua pemain menunggu partai ini. The Spur memang sedang punya tim yang hebat. Tapi, kami tak ingin dipermalukan di depan pendukung sendiri,” ujar gelandang Liverpool waktu itu, Terry McDermott.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja. The Spurs dibuat kaget atas penampilan Liverpool. The Reds seperti badai yang sulit ditahan. Tim asuhan Bob Paisley ini selalu memainkan permainan cepat tanpa henti sejak pertandingan dimulai. Sehingga, The Spurs pun kesulitan mengembangkan permainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, Liverpool mampu terus menguasai permainan. Gol demi gol pun tercipta dengan mudahnya. Liverpool membantai tim yang dianggap bakal mengancam kemapana tim-tim elite Liga Inggris itu dengan skor meyakinkan, 7-0. Ini kemenangan terbesar Liverpool, sekaligus terbesar di musim 1978-79.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MENGAMUK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Semula, The Spurs masih bisa sedikit mengimbangi permainan Liverpool. Mereka mencoba memainkan gaya sepak bola yang sedikit berbau latin. Umpan-umpan pendek dan pergerakan yang teratur menjadi ciri khasnya. Dimotori Ardiles, Spur mencoba mengacau irama permainan Liverpool.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata strategi itu tak berjalan. Liverpool justru mengamuk dan mencoba memberi tekanan yang sangat tajam kepada lawan. Kenny Dalglish dkk akan cepat menekan The Spurs, manakala kehilangan bola. Sebaliknya jika menguasai bola, mereka akan melakukan serangan dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya bermain cepat tanpa kenal lelah itu tampaknya membuat tim tamu kesulitan. Bahkan, mereka semakin kehilangan kepercayaan diri setelah Kenny Dalglish mencetak gol pertamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, The Spurs hanya bisa sesekali menyerang. Itupun tak pernah benar-benar berbahaya. Sebab, serangan mereka selalu mentah. Kiper Liverpool, Ray Clemence nyaris tak pernah bekerja keras. Bahkan, memegang bola pun jarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya kiper Tottenham Hotspur, Barry Daines harus jatuh-bangun menahan serangan demi serangan yang dilancarkan Liverpool. Belum 30 menit berlangsung, dia harus memungut bola dari jaringnya sebanyak tiga kali. Dua gol susulan Liverpool dicetak oleh Kenny Dalglish dan Ray Kennedy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagusnya, The Spurs tak putus asa. Mereka tetap berusaha mengejar ketinggalan. Sayang, serangan mereka mudah dibaca. Selain itu Ardiles, Glenn Hoddle, dan Ricardo Villa mampu dimatikan oleh para pemain Liverpool. Ketiga pemain ini tak pernah bisa leluasa memegang bola, sehingga permainan Spurs pun kacau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki babak kedua, The Spurs mencoba mengubah keadaan. Mereka ganti menerapkan permainan cepat dari kaki ke kaki. Tapi, untuk gaya yang satu ini, Liverpool lebih jago. Sehingga, perubahan strategi itu justru blunder dan menyenangkan tuan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali The Spurs menaikkan tempo serangannya, saat itu juga Liverpool tambah mengamuk. Kecepatan permainan Liverpool bukannya mengendor, tapi justru tambah meningkat. Ini yang membuat Spurs semakin kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Graeme Souness dibiarkan terus berada di depan dan memancing pertahanan The Spurs. Sedangkan 9 pemain lainnya seolah memainkan sepak bola total. Mereka menjadi kesatuan dalam menyerang maupun bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menguasai permainan membuat Liverpool makin mudah mencetak gol demi gol tambahan. David Johnson yang menggantikan Emily Hughes mencetak dua gol tambahan. Kemudian, Phil Neal dan terry McDermott menambah dua gol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempurna sudah kemenangan Liverpool. Ketakutan terhadap ancaman Spurs ternyata tak beralasan. Walupun akhirnya di sepanjang kompetisi Spurs memang tampil bagus, tapi tidak di Anfield. Stadion yang angker itu menjadi tempat pembantaian Glenn Hoddle dkk yang sulit mereka lupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Liverpool sendiri, kemenangan tersebut merupakan kenangan amat indah. Apalagi, kemenangan itu menegaskan keperkasaan The Reds di Inggris. Di akhir kompetisi, mereka akhirnya tampil sebagai juara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu pertandingan indah yang tak mungkin kami lupakan. Banyak kenangan yang ditinggalkan,” kata McDermott yang mencetak gol terindah dalam pertandingan tersebut. Bahkan, gol ke-7 Liverpool yang dia cetak itu merupakan gol terindah dalam kariernya.&lt;strong&gt; (Hery Prasetyo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekaman pertandingan&lt;br /&gt;Ajang:&lt;/strong&gt; Divisi Utama Liga Inggris&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Skor:&lt;/strong&gt; 7-0&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tanggal: &lt;/strong&gt;2 September 1978&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Stadion:&lt;/strong&gt; Anfield&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penonton:&lt;/strong&gt; 50.705&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wasit:&lt;/strong&gt; Bob Sheperd&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Skuad Liverpool:&lt;/strong&gt; R. Clemence, P. Neal, A. Kennedy, P. Thompson, R. Kennedy, E. Hughes (D. Johnson), K. Dalglish, J. Case, S. Heighway, T. McDermott, G. Souness (Pelatih: Bob Paisley)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Skuad Tottenham: &lt;/strong&gt;B. Daines, D. McAllister, T. Naylor, G. Hoddle, J. Lacy, S. Perryman, R.Villa, O. Ardiles, P. Taylor, J. Duncan, N. McNab (Pelatih: Keith Burkinshaw)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rekaman gol&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rata-rata gol yang dicetak Liverpool sangat indah. Setidaknya, 6 dari 7 gol tercipta melaui kerja sama yang rapi. Berikut rekaman gol-gol tersebut.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Gol ke-1&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ray Kennedy memberi umpan ke kanan kepada Jimmy Case. Setelah mendekat kotak penalti, Case mencoba melepaskan tendangan ke gawang. Tapi bola tertahan kaki Kenny Dalglish. Tanpa pikir panjang, Dalglish melakukan tendangan menyusur dan menaklukkan kiper The Spurs, Barry Daines.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gol ke-2&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kennedy mencoba menendang bola ke gawang, setelah menerima umpan dari Dalglish. Membentur kaki Hoddle. Bola rebound mengarah ke Souness. Tendangannya kembali membentur. Kali ini Dalglis mengambil bola rebound dan melesakkannya ke gawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gol ke-3&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Umpan silang McDermott dari sisi kiri pertahanan The Spurs langsung disambar Ray Kennedy. Lacy mencoba menghalang, tapi bola keburu masuk gawang Spurs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gol ke-4&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalglish melakukan tendangan voli ke gawang The Spurs. Bola membentur gawang dan mental. David Johnson yang mendapatkan bola tanpa ampun mengirimnya ke gawang lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gol ke-5&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalglish yang mendapat umpan manis, kesulitan menendang ke gawang. Bola diberikan kepada Johnson yang langsung menghukum gawang The Spurs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gol ke-6&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Phil Neal melakukan tendangan bebas dari luar kotak penalti. Barry Daines mampu menahannya. Entah karena apa, tendangan diulang. Kali ini, tendangan Neal gagal dihalau Daines.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gol ke-7&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebuah serangan cepat dan effektif. Bermula tendangan posok The Spurs. Bola dihalau dan dikuasai Dalglish. Tanpa membuat waktu, dia mengumpan kepada David Johnson yang langsung memberikannya kepada Heighway. Heighway melakukan umpan silang. Terry McDermott yang sejak awal berlari tanpa henti dari pertahanannya sendiri (sekitar 70 yard) langsung menanduk bola Highway dan gol. Ini dinilai gol terindah musim itu.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4516301767938308910-6748229523502929385?l=zaien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaien.blogspot.com/feeds/6748229523502929385/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4516301767938308910&amp;postID=6748229523502929385' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4516301767938308910/posts/default/6748229523502929385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4516301767938308910/posts/default/6748229523502929385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaien.blogspot.com/2008/12/pembantaian-di-stadion-anfield.html' title='Pembantaian di Stadion Anfield'/><author><name>241en</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03261074291347304093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_bCUQs2fuN-Y/STf0FGqmfzI/AAAAAAAAAAs/Rxxu5K5WEuA/S220/1_343245500l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4516301767938308910.post-2333974865731911330</id><published>2008-11-26T19:53:00.000-08:00</published><updated>2008-11-26T20:09:40.331-08:00</updated><title type='text'>Gawang pun Berevolusi</title><content type='html'>&lt;div style="float: left; width: 304px; background-color: rgb(255, 255, 255); margin-bottom: 10px; margin-right: 10px;"&gt;  &lt;div id="imheadlinerubrik"&gt;  &lt;div style="width: 300px; float: left; margin-right: 10px;"&gt;       &lt;div style="padding: 0px 0px 5px; width: 298px;"&gt;      &lt;div id="loadarea" style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2008/11/11/102400p.jpg" border="0" width="298" /&gt;   &lt;/div&gt;              &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://bola.kompas.com/read/xml/2008/11/11/10182618/gawang.pun.berevolusi#" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none; text-transform: lowercase;"&gt;GETTY IMAGES&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div id="boxtitle" style="margin-top: 5px; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 11px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Tiang gawang dalam sepak bola modern semakin lengkap. Sebelumnya, gawang sepakbola berupa tiang pancang atau malah pintu gerbang.&lt;/div&gt;     &lt;/div&gt;        &lt;/div&gt; &lt;/div&gt;   &lt;/div&gt;    &lt;div class="haritanggalheadline"&gt;Selasa, 11/11/2008 | 10:18 WIB&lt;/div&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div id="article_body"&gt; &lt;p&gt;CHARLES Darwin percaya, semua yang ada di dunia ini berevolusi. Bukan kebetulan jika pakem ini juga berlaku di sepakbola. Tak hanya sistem permainannya saja yang selalu tumbuh dan berkembang, bentuk gawang pun selalu berevolusi, selaras dengan majunya peradaban. &lt;strong&gt;(yoyok/SOCCER)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tahun 32 Sebelum Masehi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Orang Inggris boleh mengklain bahwa mereka adalah pencipta sepakbola modern. Namun, sejarah berbicara, penemu asli sepakbola masih simpang-siur. Yang pasti, pada era Dinasti Cheng Ti (sekitar 32 tahun sebelum masehi), permainan semacam sepakbola sudah jamak dilakukan di daratan Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gawangnya cukup unik. Terbuat dari batang bambu yang dipancangkan di tanah. Untuk menahan bola tidak menggunakan jala. Tapi, memakai selembar kain sutera yang diikat kencang di antara 2 galah. Untuk ukuran panjang dan lebar, tak ada satu sumber pun yang bisa menyebutkan. Mungkin, tak selebar ukuran gawang saat ini.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1681&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di Eropa, diperkirakan akar sepakbola muncul sekitar tahun 1681. Dipelopori oleh para pelayan bangsawan Duke of Albemarle, Inggris. Gawang yang dipergunakannya sungguh menggelikan, yakni pintu gerbang benteng. Yang lebih menarik, gol baru dinilai sah jika bola bisa digiring melewatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tahun 1700-1861&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pecinta bola di Inggris mulai berkreasi. Metode pintu gerbang benteng sebagai gawang ditinggalkan. Mereka lalu memakai teknik orang Cina kuno. Menggunakan tiang yang dipancangkan. Terbuat dari kayu dan tidak menggunakan sutera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebar dan tinggi gawang beragam. Aturan Eton, misalnya, menetapkan lebar gawang sepanjang 11 kaki atau 3,35 meter. Berbeda dengan aturan keluaran Universitas Cambridge yang mensyaratkan panjang sekitar 15 kaki atau 4,75 m. Namun, di antara perbedaan itu ada satu persamaan. Gol sudah dinilai sah jika bola masuk ke gawang. Tak perlu menggiring ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tahun 1863&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Para pemain sering berdebat untuk menyimpulkan tendangan mereka gol atau tidak. Pasalnya, sulit diketahui bola lewat di atas atau di bawah tiang. Pada 1863, asosiasi sepakbola Inggris (FA) mengeluarkan peraturan bahwa pada bagian atas gawang diberi pita, yang diikatkan pada ujung bagian atas maasing-masing tiang. Selain itu, FA juga menetapkan bahwa lebar gawang yang resmi adalah 8 yard atau 7,32 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tahun 1875&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada sedikit perubahan. Atap yang terbuat dari pita diganti dengan balok kayu. Tinggi tiang gawang juga ditetapkan secara resmi oleh FA. Yakni, 8 kaki atau 2,44 meter. Aturan tentang tinggi dan lebar gawang tersebut tak berubah hingga saat ini. Sedangkan untuk bentuk dan diameter tiang masih elastis. Belum diseragamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tahun 1891&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada 1891, seorang pria Birmingham menemukan ide untuk memasang jaring pada gawang. Ide tersebut lalu dipatenkan dan diproduksi oleh seorang insinyur dari Liverpool yang bernama, John Alexander Brodie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gawang berjaring digunakan pertama kali pada laga antara perkumpulan sepakbola wilayah Utara versus Selatan, pada Januari 1891. Sedangkan pertandingan resmi yang menggunakan gawang berjaring baru diakukan pada laga WBA melawan The Villa, 1892.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahun kemudian, FA mengeluarkan keputusan bahwa ketebalan tiang  tidak boleh lebih dari 5 inci atau 12,5 cm. Pada 1938 aturan ini diperbarui dengan mengharuskan semua tiang gawang dicat warna putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan untuk tiang gawang boleh dari kayu atau logam. Material lain juga diperbolehkan tapi harus izin kepada FA. Desainnya bisa empat persegi panjang, setengah lingkaran atau bulat panjang. Di antara semua desain, bentuk bulat panjang merupakan desain yang paling sering digunakan. Sedangkan kayu, hingga era 1980-an, merupakan material paling favorit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tahun 1980&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Material kayu mulai ditinggalkan. Bahan alumunium dan plastik mulai sering digunakan. Jaring gawang pun terbuat bukan dari tali biasa. Tapi, mayoritas sudah menggunakan bahan nylon.&lt;br /&gt;Pada era 1990-an mulai ada gawang non-permanen. FA mengizinkan dengan syarat memenuhi aspek keamanan. Tiang harus bisa tertanam kuat di tanah sehingga tidak membahayakan pemain.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4516301767938308910-2333974865731911330?l=zaien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaien.blogspot.com/feeds/2333974865731911330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4516301767938308910&amp;postID=2333974865731911330' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4516301767938308910/posts/default/2333974865731911330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4516301767938308910/posts/default/2333974865731911330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaien.blogspot.com/2008/11/gawang-pun-berevolusi.html' title='Gawang pun Berevolusi'/><author><name>241en</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03261074291347304093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_bCUQs2fuN-Y/STf0FGqmfzI/AAAAAAAAAAs/Rxxu5K5WEuA/S220/1_343245500l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
